“Pendakian Pertama”

Perjalanan ini merupakan perjalanan pertama saya bersama para sahabat yang sudah saya kenal sejak SMP. Mereka merencanakan untuk pergi mendaki Gunung Batu yang terletak di Desa Sukamakmur, Jonggol, Jawa Barat. Awalnya saya tidak berniat untuk ikut, hal ini dikarenakan saya tidak punya pengalaman sama sekali dalam mendaki gunung dan itu membuat saya takut untuk ikut pergi ke sana. Akan tetapi, salah satu sahabat saya yang bernama Chacha terus membujuk saya untuk ikut. Sampai akhirnya saya pun memutuskan untuk ikut bersama mereka.
Pada pagi hari, tepatnya pukul 06.00 WIB di tanggal 19 September 2015 kami sudah berkumpul di Rumah Chacha. Perjalanan yang sudah direncanakan akhirnya bisa terlaksana juga. Setelah semua kumpul, kami pun langsung bergegas untuk menuju Gunung Batu. Kami pergi kesana ber-12 yang terdiri dari Chacha, Shafna, Jodie, Fikram, Shabrina, Sopian, Krismonica, Randy, Zidan, Siti, Fina, dan Elok. Kami pergi menggunakan sepeda motor dan hanya berbekal modal nekat dengan google maps, hal ini dikarenakan diantara kami tidak ada yang mengetahui jalan menuju Gunung Batu.
Kami kira dengan adanya google maps, kami akan sampai dengan cepat. Namun ternyata, perjalanan yang kami lalui menuju Gunung Batu cukup panjang, dikarenakan kami harus nyasar terlebih dahulu melewati Gunung Pancar. Kami tiba di Gunung Pancar pada pukul 11.00 WIB. Karena lelah, akhirnya kami memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu di tempat ini. Tanpa disangka, ternyata pemandangan dan suasana di Gunung Pancar cukup indah karena di kelilingi oleh pohon pinus. Kami pun memutuskan untuk mengambil beberapa foto bersama di tempat ini.

Setelah adzan dzuhur, kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan yang kami lalui benar-benar melelahkan karena jalanan yang kami lalui cukup rusak bagai harus mendaki gunung lewati lembah dengan menggunakan sepeda motor. Sepertinya google maps membawa kami berputar-putar terlebih dahulu sebelum sampai di Gunung Batu. Banyak yang kami lihat di perjalanan, di mulai rumah-rumah warga, sawah, sungai, hewan-hewan ternak para warga, dan masih banyak lagi. Selain itu, kami juga harus melewati jembatan asa dan pernikahan seseorang. Hal ini cukup mengibur perjalanan kami.
Setelah perjalanan yang panjang, akhirnya pada pukul 13.30 WIB kami sampai di parkiran Gunung Batu. Sebelum mendaki, kami memutuskan untuk mengisi tenaga terlebih dahulu dengan makan siang. Selesai makan, tanpa membuang waktu lagi kami langsung bergegas untuk menuju pintu masuk pendakian Gunung Batu. Untuk bisa masuk, kami diminta untuk membayar uang perawatan seharga Rp. 15.000,- per orang. Setelah itu kami langsung memulai pendakian.
Ini adalah pengalaman pertama kami semua, sehingga rasanya sangat berat. Ketinggian Gunung Batu memang hanya cuma 875 mdpl. Namun, bagi pemula seperti kami yang mendaki hanya dengan modal nekat cukup membuat kami kaget. Bahkan kami tidak menggunakan pakaian dan sepatu seperti yang umumnya digunakan untuk mendaki. Kami hanya menggunakan pakaian dan sepatu seadanya. Kami mendaki pelan-pelan tanpa terburu-buru, selangkah demi langkah agar bisa sampai puncak. Tak lupa pula kami saling membantu dan memberi semangat kepada satu sama lain. Apabila ada yang lelah, kami sepakat untuk bersama-sama berhenti sejenak. Setelah lelah hilang, kami pun melanjutkan pendakian.
Tepat saat adzan ashar kami bersama-sama sampai di puncak. Alangkah senang dan bangga nya bisa berada di atas puncak gunung batu bersama sahabat-sahabat tercinta. Pemandangan dari Puncak Batu sangat indah. Sawah dan pepohonan yang terhampar luas bagai karpet hijau yang mengelilingi gunung batu mampu mendamaikan jiwa. Kami duduk dan melihat pemandangan disekeliling kami.
“Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan”
Kata-kata itulah yang selalu ingin di ucapkan. Tak henti nya kami bersyukur dan menyadari betapa indahnya negeri ini. Dan tak lupa pula kami mengabadikan moment dengan foto bersama. Setelah itu, karena hari sudah mulai petang, kami pun bergegas untuk turun gunung dan menuju rumah.


Perjalanan ini mengajarkan saya untuk bisa bersyukur dan berani mencoba hal yang baru. Selain itu, saya juga merasakan betapa indahnya pertemanan jika diisi dengan kesetiakawanan. Perjalanan ini pula yang membuat kami menjadi kecanduan akan mendaki gunung.





Komentar Terbaru