Catatan Pertama

“Pesan Tersirat dari Desa Cigugur”

Perjalanan kali ini merupakan pengalaman pertama saya berkunjung ke daerah Kuningan, Jawa Barat yang lebih tepatnya ke Desa Cigugur. Sebelum berkunjung ke desa ini, saya sudah mendengar bahwa desa ini merupakan desa yang sangat menjaga toleransi antar umat beragamanya. Desa ini dihuni oleh beragam agama, yang terdiri dari agama Islam, protestan, khatolik, dan sunda wiwitan. Namun, mayoritas penduduk desa ini merupakan penganut agama khatolik. Dan saya beserta keluarga PPKN 2017, pada tanggal 10-12 Mei 2018 menghabiskan malam-malam kami untuk belajar di desa ini.

Hari pertama, setiba nya di sana. Kedatangan kami langsung di sambut dengan hangat oleh pemerintah desa dan warga setempat. Kami berkumpul di Kantor Lurah Cigugur. Setelah itu, kami berpisah dan menuju tempat tinggal sementara kami masing-masing, yaitu rumah orang tua angkat kami selama disana.

Kantor Lurah Cigugur

Saya dan teman sekamar saya yang bernama Lu’lu Miftahul Jannah mendapatkan tempat tinggal di daerah Cipager. Lebih tepatnya kami tinggal di rumah Ibu Enok Ogah yang akan menjadi orang tua angkat kami. Ibu Enok Ogah merupakan penganut agama khatolik. Ibu Enok Ogah sudah sangat tua, suaminya sudah meninggal dunia dan saat itu ia tinggal bersama dengan dua orang anaknya, menantu, serta cucu-cucunya.

Foto Bersama Keluarga Ibu Enoh Ogah

Saat itu, saya sedikit terkejut saat mengetahui bahwa orang tua angkat saya merupakan penganut agama khatolik. Karena sebelumnya saya belum pernah tinggal satu rumah bersama dengan penganut agama lain. Awalnya terasa sangat canggung sekali rasanya. Namun setelah berkenalan dan ramah tamah dengan seluruh keluarga, terasa nyaman dan sangat terasa sekali kekeluargaan yang ada di dalam rumah Ibu Enok Ogah.

Hari kedua sudah di jadwalkan untuk kegiatan mengenal pekerjaan orang tua angkat. Namun, Ibu Enok Ogah sudah tidak bekerja karena sudah tua. Maka dari itu, Ibu menitipkan saya dan Lu’lu kepada saudaranya yang bernama Ibu Anah yang ingin pergi ke sawah. Di perjalanan, saya bertemu dengan teman-teman saya yang tinggal di daerah Cipager yang kebetulan ingin pergi ke sawah juga. Kami pun berjalan bersama menuju sawah. Di sawah, kami membantu Ibu Anah membersihkan tanaman-tanaman yang menjadi hama karena mengganggu pertumbuhan tanaman padi. Terlihat pula di sawah beberapa petani sedang memanen pani.

Petani Memanen Padi

Hari itu, selain berkunjung ke sawah, kami juga berkunjung ke pertambangan batu, atau orang-orang disana biasa menyebutnya “Gunung Batu”. Dengan pengalaman ini saya mendapat pelajaran mengenai betapa beratnya bekerja mencari sesuap nasi untuk keluarga. Kemudian, pada sore hari diisi dengan kegiatan “Sarasehan” atau dialog dengan para pemuka agama untuk mengetahui lebih dalam mengenai beragam agama yang di anut oleh penduduk Desa Cigugur dan bagaimana toleransi antar agama dapat tercipta disana. Acara hari ini selesai pada malam hari, saya pun beserta rombongan yang ingin pulang ke daerah Cipager di antar ke rumah oleh penduduk setempat. Suasana desa ini di malam hari cukup aman karena terlihat sejumlah penduduk yang sedang melakukan ronda untuk menjaga keamanan desa ini.

Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Hari ketiga merupakan hari yang berat karena harus pulang ke rumah berpisah dengan keluarga di Cigugur. Saya sudah sangat nyaman tinggal di desa ini. Saya mengakui, desa ini memang sangat aman, damai dan tentram. Toleransi antar penduduk umat beragama disana sangat terasa. Mereka sangat ramah dan mau menerima tamu dengan baik. Selain itu mereka juga saling menghormati, membantu, serta menjaga satu sama lain.

Pesan tersirat dari desa ini yaitu walau berbeda-beda keyakinan tapi tetap bersama. Perbedaan bukan merupakan suatu masalah. Perbedaan itu memang tidak dapat disatukan, namun perbedaan itu dijadikan sebagai pelengkap untuk maju kedepan. Penduduk disana menganggap bahwa “perbedaan itu indah”. Karena semua agama itu adalah baik, dan terkadang yang buruk justru umat penganut agama itu sendiri yang menyebabkan terjadinya perpecahan.

Desa ini merupakan desa yang patut di contoh, Karena merupakan desa yang sangat maju, aman dan damai. Banyak yang bisa kita contoh dari desa ini, dimulai  dari sistem pemerintahannya, sistem keamanannya, dan toleransi antar umat beragamanya. Saya sangat terkesan dan senang bisa berkunjung ke desa ini karena banyak pelajaran yang bisa saya dapatkan di desa ini.

“The highest result of education is tolerance”

— Helen Keller.

Salam Kenal

Perkenalkan nama saya Shafna Safitri
Saya adalah gadis keturunan Betawi-Sunda yang dilahirkan di Jakarta
pada tanggal 25 Januari 1999.
Saat ini, saya sedang menuntut ilmu di Universitas Negeri Jakarta.
Saya mempunyai hobi yaitu menonton film, membaca novel, dan traveling.
Selain itu, saya juga merupakan pecinta seblak dan es teh manis.

Menurut saya setiap perjalanan punya ceritanya masing-masing. Oleh sebab itu, melalui website ini saya ingin mengabadikan sekaligus membagikan setiap perjalanan yang pernah saya lalui kepada kalian.

Selamat membaca 🙂

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai